BEBERAPA hari yang lalu saya membuat ig-story dan bertanya kepada netizen kira-kira blog yang telah lama kekosongan kreativitas ini perlu diisi tulisan dengan tema apa, dan beberapa diantaranya meminta saya menulis mengenai PSAK 69.

PSAK 69 yang–baru berlaku 1 Januari 2018 lalu–memang seru dibahas. Bukan karena angkanya yang unik ya, 69, tetapi juga karena kontennya yang menarik. Kenapa menarik? PSAK 69 mengatur perlakuan akuntansi atas produk-produk agrikultur, misalnya pohon bagi perusahaan yang bergerak di bidang perhutanan, sapi bagi perusahaan peternakan, dll. Menarik kan?

Menjadi semakin menarik karena agrikultur memang unik. Historical cost — atau biasa kita sebut sebagai cost model–memang sulit diterapkan karena sifat agrikultur yang tumbuh/berkembang. Bayangkan saja, bagaimana caranya kita mengukur kenaikan nilai sapi dari pertumbuhan sapi? Atau apakah seiring dengan pertumbuhan sapi tersebut entitas juga harus mengakui pendapatan? Atau apakah pendapatan baru dapat diakui pada saat terjadi penjualan? Nah untuk mengatasi kebingungan itu, hadirlah PSAK 69.

Prinsip umum yang dipakai PSAK 69 adalah penggunaan konsep nilai wajar dalam mengukur nilai aset. Tapi sebelum membahas jauh PSAK 69 beberapa istilah ini digunakan dalam PSAK 69:

  1. Transformasi biologis: proses pertumbuhan artinya proses perubahan menjadi lebih besar dari semula, proses penambahan artinya perkembangbiakan, dan proses menghasilkan artinya menghasilkan suatu produk tertentu. Transformasi biologis selain pertumbuhan juga dapat mengakibatkan degenerasi (penurunan kualitas atau kuantitas hewan atau tanaman) atau prokreasi (penciptaan hewan atau tanaman hidup tambahan);
  2. Aset biologis yang diatur dalam PSAK 69 adalah aset (hewan atau tanaman hidup) yang dapat menghasilkan produk agrikultur (contohnya sapi menghasilkan susu), dapat menjadi produk agrikultur (contohnya sapi menjadi daging), atau bahkan dapat menghasilkan aset biologis lain sebagai produknya (misalnya sapi menghasilkan anak sapi). Oleh karena itu PSAK 69 mengatur kedua hal tersebut: aset biologis dan produk agrikultur. PSAK 69 tidak berlaku bagi tanaman produktif, karena tanaman produktif diatur sebagai aset tetap pada PSAK 16. Tanaman produktif adalah tanaman hidup yang digunakan dalam produksi atau penyediaan produk agrikultur, diharapkan untuk menghasilkan produk untuk jangka waktu lebih dari satu periode dan memiliki kemungkinan yang sangat jarang untuk dijual sebagai produk agrikultur, kecuali untuk penjualan sisa yang insidental (incidental scrap);
  3. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa aset biologis adalah tumbuhan/tenaman dan hewan selama masih hidup, sedang produk agrikultur adalah hasil panen/produk dari aset biologis. PSAK 69 mengatur hanya sampai titik pemanenan karena setelahnya berlaku PSAK 14 (persediaan);
  4. Panen adalah pemisahan produk dari aset biologis atau penghentian proses kehidupan suatu aset biologis; dan
  5. Sistem produksi pada PSAK 69 dibagi menjadi dua, yaitu consumable dan bearer/menghasilkan. Contoh yang consumable: hewan atau tumbuhan itu sendiri yang dipanen misalnya ikan atau ayam, sedang contoh bearer/menghasilkan adalah tanaman atau hewan yang menghasilkan produksi saat dipanen, misalnya kopi atau kelapa sawit.

Menurut PSAK 69:

  1. Aset biologis dinilai sebesar nilai wajar dikurangi biaya penjualan (point-of-sales costs), baik pada pengakuan pertama maupun pada tanggal pelaporan;
  2. Sedangkan produk agrikultur dinilai sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan (point of sale costs) pada pengakuan pertama saja;
  3. Biaya penjualan adalah biaya inkremental yang dapat diatribusikan secara langsung untuk pelepasan aset, tidak termasuk beban pembiayaan dan pajak penghasilan;
  4. Perubahan nilai aset diakui sebagai pendapatan utama dalam laba/rugi periode berjalan; dan
  5. Pengungkapan yang disyaratkan lebih banyak, terutama terkait pertumbuhan/ perkembangan aset biologis.

Berikut ini diberikan contoh aset-aset biologis:

 

Aset Biologis Produk Agrikultur Hasil Pemrosesan Setelah Panen
Domba Wol Benang, karpet
Pohon dalam hutan kayu Pohon tebangan Kayu gelondongan, potongan kayu
Sapi perah Susu Keju
Babi Daging potong Sosis, ham
Tanaman kapas Kapas panen Benang, pakaian
Tebu Tebu panen Gula
Tanaman tembakau Daun tembakau Tembakau
Tanaman teh Daun Teh Teh
Tanaman anggur Buah anggur Minuman anggur
Tanaman buah-buahan Buah petikan Buah olahan
Pohon kelapa sawit Tandan buah segar CPO
Pohon karet Getah karet Produk olahan karet

Pengakuan
Entitas mengakui aset biologis atau produk agrikultur jika dan hanya jika:

  • entitas mengendalikan aset biologis sebagai akibat dari peristiwa masa lalu;
  • besar kemungkinan manfaat ekonomik masa depan yang terkait dengan aset biologis tersebut akan mengalir ke entitas; dan
  • nilai wajar atau biaya perolehan aset biologis dapat diukur secara handal.

Pengukuran
Aset biologis diukur pada saat pengakuan awal dan setiap akhir periode pelaporan pada nilai wajar dikurangi biaya penjualan, kecuali nilai wajar tidak dapat diukur secara andal. Sedangkan produk agrikultur yang dipanen dari aset biologis milik entitas diukur pada nilai wajar dikurangi biaya penjualan pada titik panen. Dalam hal nilai wajar tidak dapat diukur secara andal, aset biologis diukur pada biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai.

Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan atau kerugian yang timbul pada saat pengakuan awal aset biologis pada nilai wajar dikurangi biaya penjualan dan dari perubahan nilai wajar setiap akhir periode pelaporan dikurangi biaya penjualan aset tersebut ditambah keuntungan atau kerugian yang timbul pada saat pengakuan awal produk agrikultur pada nilai wajar dikurangi biaya penjualan diakui sebagai laba/rugi pada periode dimana keuntungan atau kerugian tersebut terjadi.

Contoh penyajian aset biologis:

Neraca
Aset Lancar 

Kas dan setara kas
Piutang
Persediaan
Total Aset Lancar

Aset Tidak Lancar
Ternak sapi perah – belum menghasilkan
Susu tırnak – menghasilkan
Subtotal aset biologis
Properti, pabrik dan peralatan
Total aset tidak lancar
Total Aset  

Referensi
Dwi Martani, PSAK 69 (2017).
Gambar dari sini.

Advertisements