SUATU hari saya ditugaskan kantor untuk pergi ke suatu Kanwil DJP di daerah Kalimantan. Sesampainya di tempat, saya kontak teman seangkatan yang seingat saya bertugas di daerah tersebut. Sayangnya, teman saya tidak lagi ditugaskan disana dan sudah pindah ke kantor lain yang berjarak 200 km dari kota tempat saya menginap.

Alih-alih bertemu, akhirnya kami hanya ngobrol lewat WhatsApp dan membicarakan seputar pekerjaan, pendidikan dan karir. Dari obrolan itu saya menangkap bahwa dia sudah nyaman di tempat kerja sekarang dan tidak berniat melanjutkan pendidikan, atau mutasi ke kota besar.

Di tengah-tengah obrolan kami, dia kemudian memberikan saya link cerita ini. Lucu sih, buat penyegaran, saya saja sampai ngakak bacanya. Cuma, ternyata dia hanya ingin menyampaikan satu hal kepada saya: Bahwa sejatinya kita punya dua opsi dalam menghadapi hidup ini:

  1. opsi untuk kehidupan yang damai dan bahagia selamanya, tapi jadi orang biasa
  2. opsi untuk kehidupan yang keras penuh dengan tantangan dan bahaya, akan tetapi berujung dengan kemuliaan dan menjadi pahlawan yang dikenang semua orang.

Menurut teman saya ini, dia adalah tipe orang dengan opsi pertama, sedangkan saya orang dengan opsi kedua. Saya sih tidak mengiyakan, tapi juga tidak mengaminkan. Karena saya juga orang biasa, bukan orang yang istimewa, apalagi pahlawan yang akan dikenang semua orang.

Sebuah pepatah mengatakan, setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Saya tidak tahu kapan masa saya akan datang. Yang jelas selama kita bisa memberikan yang terbaik, mengapa tidak?

 

 

Advertisements