SAYA tidak mengerti mengapa rasa sakit hati bisa merubah sikap seseorang ke orang lain sampai sedemikian drastisnya. Yang mana rasa sakit hati itu disebabkan–menurut saya–‘hanya‘ karena salah omong.

Adalah suami istri, Anya dan Ale yang hidup bahagia. Meski Ale harus pergi ke lokasi onshore di luar negeri–yang berpindah-pindah–selama 6 minggu dan menjalani 5 minggu berikutnya di rumah, kehidupan mereka tetap bahagia. Beberapa hari sebelum hari perkiraan lahir anak pertama mereka, sebuah musibah terjadi. Anya kehilangan anaknya sewaktu masih dalam kandungan. Kehilangan anak pertama tersebut bukanlah musibah yang sebenarnya, karena musibah yang sebenarnya justru terjadi saat Ale mengatakan hal ini kepada istrinya:

“Seandainya dulu kamu tidak terlalu sibuk, mungkin anak kita masih hidup…”

Anya merasa kalimat itu adalah kalimat tuduhan. Namun mewakili perasaan laki-laki, menurut hemat saya kalimat tersebut bukanlah kalimat tuduhan, hanya kalimat pengandaian yang ingin dishare seorang suami kepada istrinya.

Maka rumah tangga yang bahagia tersebut berubah total hanya dalam hitungan detik. Anya meminta pisah ranjang kepada Ale. Masalah demi masalah mereka temui, sampai 6 bulan kemudian Ale merasa bahwa semuanya harus segera diakhiri. Setuju dengan cara berpikirnya Ale, bahwa jika Anya marah karena kata-kata itu, kenapa masalah itu tidak dibicarakan secara baik-baik, saling memaafkan, lalu selesai? Bukan dengan mendiamkan suami dan menolak berkomunikasi maupun berinteraksi dengan suami sampai 6 bulan lamanya.

Tapi itulah wanita.

Ika Natassa berhasil membuat saya gregetan di novel ini cukup dengan sebuah pertanyaan: kenapa sih wanita bisa bersikap seperti itu hanya karena suaminya salah omong? 

Ika Natassa menceritakan Anya dan Ale dengan gaya yang sama seperti Ika Natassa menceritakan Keara dan Harris di novel Antologi Rasa. Ringan, smart, pendeskripsian yang lengkap tentang tempat, keadaan, atau seseorang sehingga kita berasa ada di kejadian di novelnya. Saya rasa Ika Natassa layak mendapatkan penghargaan sebagai penulis wanita terbaik Indonesia 2015.

Lalu bagaimanakah akhir dari cerita pisah-ranjangnya Anya dan Ale? Mumpung masih banyak bukunya di Gramedia, yuk baca #critical11

Advertisements