SIAPA sih di dunia ini yang rela, ikhlas dengan sepenuh hati membayar pajak? Mungkin ada, tapi sangat sedikit jumlahnya. Terlebih karena saat kita membayar pajak, kita tidak mendapatkan kontraprestasi (balas jasa imbalan) secara langsung. Wajar saja di tengah sistem self assesment kepatuhan menjadi salah satu concern petugas pajak dalam menjalankan tugasnya. Yang artinya adalah, masyarakat sebisa mungkin menghindar dari kewajiban membayar pajak. Oleh karena itu beragam cara penghindaran dilakukan oleh Wajib Pajak, dari cara yang sederhana sampai cara yang paling kompleks. Tujuannya satu, memperkecil beban pajak yang seharusnya disetor ke negara. Pembahasan kali ini akan mencoba menguraikan mengenai penghindaran pajak dari sisi legalitasnya, tax evasion dan tax avoidance.

Tax avoidance adalah langkah-langkah yang dilakukan oleh seseorang untuk menghindari pajak namun dengan cara-cara yang legal. Sebaliknya, tax evasion menggunakan cara ilegal dalam menghindari pajak atau dengan melanggar ketentuan yang berlaku. Meski legal, tax avoidance menunjukkan perilaku ketidakpatuhan, sehingga tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang.

Cowell (1990) mengatakan bahwa tax evasion adalah kegiatan judi. Seorang penjudi yang profesional akan mengambil posisi dengan risiko yang lebih kecil dari seluruh tindakannya, sedangkan penjudi yang lainnya (yang tidak profesional) akan bertindak sebaliknya. Dalam kondisi seperti ini akan terjadi suatu permainan untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang akan menderita kalah sesuai dengan parameter yang diyakini masing-masing.

Lebih jauh Cowell (1990) mengatakan bahwa kesediaan seseorang untuk membayar pajak dipengaruhi oleh besarnya tarif proporsional, probabilitas pengenaan sanksi akibat tax evasion dan tingkat biaya tambahan.

Semoga bermanfaat.

_______________________
Referensi:
Simanjuntak dan Mukhlis, 2012, Dimensi Ekonomi Perpajakan Dalam Pembangunan Ekonomi

Advertisements