Sepertinya judul tulisan ini kepanjangan ya. Tapi biarlah, habisnya saya bingung mau tulis judul apa, hehe. Semoga saja isi tulisan ini tidak sepanjang judulnya ya.

Jadi, karena saya terlalu menjalani peran sebagai agent call centre 500200 (yang ini saya bercanda), saya jadi tau masalah-masalah yang sedang dihadapi Wajib Pajak secara umum. Semacam cenayang yang bisa menebak kegalauan di hati Wajib Pajak, setiap dering telepon yang masuk ke pesawat di meja saya, saya kadang bisa menebak bahwa Wajib Pajak akan menanyakan mengenai masalah ini. Dan sudah saya buktikan, tingkat akurasi cenayangan saya 80%, hihi.

Banyak Wajib Pajak yang kebingungan mengisi SPT Tahunan PPh Badan tahun 2013. Bingungnya bukan karena tidak tahu, saya yakin Wajib Pajak semuanya sudah mahir dan lihai dalam mengisi SPT Tahunan. Namun memang karena pada tahun 2013 ada PP 46/2013 dan Peraturan Menteri Keuangan nomor 107/PMK.011/2013, dimana berdasarkan peraturan-peraturan tersebut, untuk Wajib Pajak Badan yang telah beroperasi komersial lebih dari satu tahun dan peredaran bruto selama tahun 2012 tidak melebihi 4,8 miliar rupiah, setengah tahun pertama di tahun 2013 (Januari-Juni) menghitung PPh dengan tarif umum, sedangkan setengah tahun kedua (Juli-Desember) dikenakan PPh secara final dengan tarif 1%.

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana mengisi formulir SPT Tahunan PPh Badan (Formulir 1771) terkait pelaksanaan PP 46/2013 ini?

Berdasarkan Surat Edaran yang dikeluarkan oleh Dirjen Pajak pada tahun 2013, maka cara pengisian SPT Tahunan PPh Badan 2013 bagi Wajib Pajak yang menggunakan PP 46 ada beberapa perbedaan. Diantaranya:

1. Penghasilan Bruto Juli-Desember dimasukkan di Formulir 1771-IV Bagian A (PPh Final) angka 14

Angka 14 ini masih kosong (berupa titik-titik) sehingga Wajib Pajak harus mengisinya sendiri dengan tulisan Penghasilan Usaha Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu.

Pada Bagian DPP diisikan jumlah penghasilan bruto bulan Juli-Desember 2013, kolom tarif diisi dengan 1%, dan PPh Terutang diisi dengan perkalian antara DPP dan tarif, atau seharusnya sama dengan PPh Pasal 4 ayat (2) yang sudah disetor masa Juli-Desember 2013.

 

2. Pada Formulir 1771-I (Penghitungan Penghasilan Neto Fiskal)

*) Pada Angka 1, dimasukkan data-data laporan keuangan selama satu tahun penuh, dari Januari-Desember 2013. Baik Peredaran usaha, HPP, biaya-biaya, maupun pendapatan dan beban lain-lain diisikan data-data selama satu tahun penuh sesuai dengan laporan keuangan komersial.

*) Pada Angka 2, diisikan penghasilan dari luar negeri selama tahun 2013, apabila ada

*) Sehingga pada angka 3 akan diperoleh penghasilan netto komersial selama 1 tahun penuh

*) Pada angka 4, Penghasilan Yang Dikenai PPh Final dan Yang Bukan Termasuk Objek Pajak, dimasukkan PENGHASILAN NETO JULI-DESEMBER 2013 yang sudah dikenai PPh Final 1%. Ingat, penghasilan neto, bukan bruto. Hal ini berbeda dengan yang diisikan di Formulir 1771-IV Bagian A angka 14, karena yang diisikan di sana bruto, sedangkan di sini neto. Yang dimaksud dengan neto adalah Pendapatan dikurangi dengan HPP maupun beban-beban.

*) Koreksi Fiskal yang dilakukan, baik positif maupun negatif, hanya diperbolehkan atas penghasilan yang dikenai pajak bersifat tidak final. Dengan kata lain hanya atas penghasilan Januari-Juni saja. Sedangkan Penghasilan Juli-Desember, cara koreksi fiskalnya dengan cara langkah pada angka 4 tersebut.

*) Angka 4 pada lampiran ini akan menjadi pengurang bagi angka 3, yang akan dioperasikan di angka 8 (Penghasilan Neto Fiskal). Sehingga yang akan muncul di angka 8 adalah penghasilan neto dari Januari-Juni saja, yang akan dihitung pajaknya di bagian induk.

Demikian  perbedaan pengisian formulir SPT Tahunan PPh Badan tahun 2013 dan tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan bagian yang lain pada SPT Tahunan PPh Badan tetap diisi seperti biasanya. Semoga berkenan.

————————————————————————-

Bintaro, 16 April 2014

 

Advertisements