Dulu, jaman saya SD, Jakarta bagi saya adalah sebuah ketidakmungkinan. Dulu Jakarta saya ketahui sebagai sebuah tempat yang untuk menjangkaunya pun saya tidak akan bisa karena bahkan saya tidak tahu ada di mana lokasinya; waktu itu saya belum belajar tentang peta. Jakarta, yang saya ketahui adalah kota tempat orang-orang menggantungkan harapan mereka, tempat mengadu nasib dengan berjualan–karena kebanyakan orang kampung saya pergi ke Jakarta untuk berjualan–dan tempat para elit pemerintah berkantor. Intinya, dulu Jakarta adalah ketidakmungkinan, sebuah stasiun yang tidak mungkin kereta saya menjangkaunya.

Lalu, beberapa hari yang lalu saya tersentak dengan ingatan jaman SD itu saat saya sedang terjebak macet. Waktu itu saya baru pulang perjalanan dinas dari Bandung, pulang ke Jakarta. Perjalanan Bandung – Tol Cawang memakan waktu sekitar 3 jam, dan perjalanan Tol Cawang ke kantor saya yang berada di bilangan Gatot Subroto menempuh waktu yang sama lamanya dengan Bandung-Tol Cawang, 3 jam. Jadi Bandung-Jakarta harus saya tempuh dalam waktu 6 jam.

Saya tersentak karena ketidakmungkinan yang dulu menjadi kenyataan di masa kini. Dulu saya hanya bisa melihat Jakarta lewat televisi dan mendengarnya lewat radio. Kini saya di Jakarta, kalau tidak bisa saya katakan terjebak, mungkin saya akan menyebutnya dengan terpaksa menyetubuhi Jakarta. Penempatan kantor saya yang mengharuskan saya untuk tinggal, hidup, dan bernafas di Jakarta.

Saya tidak sedang mengeluh tinggal di Jakarta, karena kalau harus mengeluh, saya sudah mengeluhkan hal itu sejak 3 atau 4 tahun yang lalu. Saya hanya sedang kaget, karena tiba-tiba saya diserang kesadaran bahwa saya kini tinggal di Jakarta, di tempat yang dulu hanyalah sebuah ketidakmungkinan.

Banyak hal yang dulu tidak mungkin, kini menjadi mungkin. Pun sebaliknya, banyak hal yang dulu mungkin, kini tidak mungkin kita dapatkan/lakukan kembali.

Saya tidak sedang mengeluh tinggal di Jakarta, saya hanya sedang kaget menyadarinya. Saya seperti sedang ketimpuk palu godam, karena selama ini saya terlalu menikmati tinggal di Jakarta. Menikmati macet dan panasnya, juga menikmati semua fasilitas dan kelengkapannya.

Jakarta, oh Jakarta…

 

Advertisements